Wednesday, November 5, 2014

Judulnya simple, DAD.

Setelah sedikitnya selama 7 bulan berjuang untuk sembuh melawan rasa sakitnya, setelah pindah rumah sakit sana-sini. Finally, dia lebih memilih untuk tidur selamanya, pilihan yang dianggap bisa mengakhiri kesakitannya tanpa mempedulikan orang-orang yang ia tinggalkan, yang sebenarnya juga ikut berjuang untuk kesembuhannya. Kasih sayang, doa, tenaga sampai jual rumah, usaha yang seharusnya ga sia-sia.
Tapi apapun usaha yang kita lakuin, smua memang kehendak-Nya. Usaha terakhir yang bisa kita perbuat, hanya mendoakan untuk kebahagiannya disana.
Aku yakin, dia yang lebih memilih mendatangi adikku dan saudaraku yang lain karena dia tak ingin membuat sedih anak perempuannya. Meski aku sering meminta pada-Nya agar dapat bertemu sekali saja dalam mimpi.
-----------------


Entah saat itu aku usia berapa, mungkin seumuran anak TK. Aku masuk TK sekitar usia 3.5 tahun, lebih cepat dari anak-anak yang lain.
Kala itu aku pergi bertiga dengan Mamah dan Papahku ke salah satu tempat perbelanjaan di kotaku. Mungkin saat itu Papah berniat membelanjakan keperluan rumah.
Aku anak balita yang selalu tertarik dengan barang yang mungkin kemasannya lucu atau entah apa, sampai aku harus fokus ke barang itu. Alhasil, aku kehilangan keberadaan Mamah Papahku.
Panik tapi tanpa menangis, karna aku percaya aku masih bisa nemuin mereka. Aku berkeliling kesana kemari, sempat bertanya ke diri sendiri "apa iya mereka udah pulang ninggalin aku?". Aku lari keluar ke pintu depan dan senja sudah mulai datang. Semakin panik. Dan tanpa malu aku bertanya ke tukang becak. Salah satu dari mereka mengantarku ke security dan yaa, disana aku melihat Papahku. Aku berlari ke arahnya, hanya sanggup memeluk kakinya karna Papahku yang terlalu tinggi. Di saat itu juga, aku menangis. Menangis sejadi-jadinya.
Entah itu tangisan sedih karna tak ingin berpisah dengannya atau tangisan bahagia karna sudah bertemu lagi dengannya setelah beberapa menit kehilangan dirinya.
Cerita ini ga pernah bisa aku lupain sama sekali sampai sekarang.
--------------
Beberapa tahun kemudian, mungkin sekitar pertengahan tahun 1995. Ba'da maghrib, hujan turun deras ditambah angin kencang. Papahku belom sampai rumah, entah memang lembur kerja atau menunggu hujan reda. Sampai terdengar ketukan pintu rumah karena kedatangan beberapa orang.
Aku ga tau mereka bawa kabar apa, seingatku Mamah memang menjadi berbeda setelah kedatangan mereka.
Sampai akhirnya aku tau kalo Papahku ternyata kecelakaan di jalan, yang membuatnya terluka di banyak bagian tubuh. Yang membuatnya harus menjalani operasi berkali-kali, menjalani perawatan lainnya, membuatnya lama tidak pulang dan membuat Mamah harus banting tulang ngurusin semuanya.
Semenjak kecelakaan, aku tak pernah berani melihat Papah lagi. Aku bahkan masih ingat apa yang aku lakuin ke Papah waktu menengoknya di rumah sakit.
Saat itu Mamah lagi nganter mbakku ke gerbang depan rumah sakit, karna mbakku mau pulang ke rumah. Tinggal aku berdua sama Papah yang terbaring di ranjangnya. Entah kala itu aku benar-benar ketakutan, sampai aku harus bersembunyi di bawah ranjang Papah. Meski Papah manggilin aku, aku tetap diam di bawah ranjang tak mempedulikannya. Aku menyesalinya, tiap mengingat kejadian itu. Kenapa aku harus takut? Kenapa aku harus ngumpet? Papah, aku minta maaf. Aku tak berniat menyakiti perasaanmu, sungguh..
----------------

No comments:

Post a Comment