Jelang 212..
Sempat cemas ketika ia memiliki keinginan untuk ikut bergabung 212.
Cemas, karena ia sebelumnya bingung akan berangkat naik apa dan dengan siapa.
Tapi ternyata tekad dan niatnya sudah begitu besar.
Hingga selang beberapa hari, di suatu pagi, ia berpamitan kepada saya.
Sempat cemas ketika ia memiliki keinginan untuk ikut bergabung 212.
Cemas, karena ia sebelumnya bingung akan berangkat naik apa dan dengan siapa.
Tapi ternyata tekad dan niatnya sudah begitu besar.
Hingga selang beberapa hari, di suatu pagi, ia berpamitan kepada saya.
"Doakan semuanya lancar," pintanya singkat.
Antara sedih, terharu dan bangga akan keberaniannya.
Jumat 212 pun berlangsung..
Memantau timeline di media sosial.
Banyak pujian tapi tak sedikit pula cercaan.
Sebegitu hinakah yang mereka lakukan?
Bukankah ini bukan soal membenci siapa?
Ini hanyalah bukti rasa cinta mereka pada Sang Pencipta.
Memantau timeline di media sosial.
Banyak pujian tapi tak sedikit pula cercaan.
Sebegitu hinakah yang mereka lakukan?
Bukankah ini bukan soal membenci siapa?
Ini hanyalah bukti rasa cinta mereka pada Sang Pencipta.
Menonton televisi, memastikan hal yang lebih nyata.
Melihat jutaan muslim memutihkan Monas.
Tak lengah meski hujan mengguyur tubuhnya tatkala berjamaah memanjatkan doa.
Saya pun tak sanggup untuk menahan air mata.
Betapa syahdunya pemandangan yang saya lihat ini, meski hanya dari layar kaca.
Melihat jutaan muslim memutihkan Monas.
Tak lengah meski hujan mengguyur tubuhnya tatkala berjamaah memanjatkan doa.
Saya pun tak sanggup untuk menahan air mata.
Betapa syahdunya pemandangan yang saya lihat ini, meski hanya dari layar kaca.
Berakhirnya 212..
Saya pun memberanikan diri untuk meminta padanya.
Singkat tapi penuh makna dan rasa bangga.
"Pulanglah dengan selamat ."
Saya pun memberanikan diri untuk meminta padanya.
Singkat tapi penuh makna dan rasa bangga.
"Pulanglah dengan selamat ."
No comments:
Post a Comment