Tuesday, November 22, 2011

I Love DADDY


Waktu kelas 2 SD...
“Emang Papa kemana sih, Ma? Kok ga pernah pulang lagi?” tanyaku ke Mama suatu hari.
Tiba-tiba ada pesawat yang lewat.  Dan Mama mengatakan sesuatu.
“Lihat pesawat itu, nak.  Lambaikan tanganmu!” jawab Mamaku memandang ke atas dengan sedikit senyum.
Aku melambaikan tanganku, “Kenapa Ma? Kok aku harus dadah sama pesawat itu?”
“Papa di dalem sana.  Lagi keliling dunia.” Melihatku penuh ketulusan sembari tersenyum.

Ber-dadah saat pesawat lewat menjadi kebiasaanku pada akhirnya. Entah setiap pulang sekolah sampai bermain dengan teman.  Hingga suatu ketika salah seorang temanku bertanya.
“Tiya, kamu kenapa dadah kalo ada pesawat lewat?”
“Ooh, aku lagi dadah sama Papaku.  Dia lagi naik pesawat loh, keliling dunia.” Jawabku mantap.
Dan jawaban seperti itu terus terucap setiap ada orang yang bertanya, sampai aku menyadari ketika aku diajak Mamaku ke suatu tempat yang disebut orang “kuburan”.
“Kita ngapain kesini Mah? Di kayu itu ada nama Papah.”
“Kita do’a dulu yuk, Nduk. Buat Papah.. Biar selamet di jalan.”
Tanpa banyak bertanya lagi, aku menuruti ucapan Mamaku.
Ketika Mamaku beranjak berdiri dan mengajakku pulang, tiba-tiba aku tergerak untuk mencium kayu bertuliskan nama Papaku itu.

***

Kelas 6 SD...

“Eh, Papanya Mela meninggal.”
“Yang bener? Kapan?”
Pagi itu teman-temanku ribut karena ada kabar meninggalnya Ayah dari seorang teman kita.  Lalu teman-teman merencanakan akan datang ke upacara pemakaman Ayah temanku.  Aku ikut serta.  Setelah sampai di rumah Mela.
“Mela kok nangis?” kataku dalam hati.
“Mamanya Mela juga nangis. Saudaranya juga banyak yang nangis.”

Aku segera memikirkan semua yang aku lihat di rumah Mela ketika sudah tiba di rumah.
“Ternyata ditinggal seseorang yang kita sayang menyedihkan ya?” aku mulai berceloteh sendiri.
“Tapi bukankah Mela lebih beruntung dari aku? Dia jauh lebih lama bareng-bareng sama Papanya. Aku cuma 6 tahun ketemu sama Papaku.  Itu juga ga banyak kenangannya.” aku semakin ga jelas ngomong tanpa arah. Lalu air mata tiba-tiba mengalir, begitu saja.

Aku sadar kalo aku menangis.  Segera aku mengusap wajahku, takut ketauan Mamaku.  Aku berdiri, berjalan menuju sebuah lemari.  Aku membuka laci di lemari itu.
“Apa aku punya foto kecilku bareng Papah?” kataku dalam hati, kangen mendadak.
Aku mencoba mencari, mengecek apa saja yang ada di laci itu.  Yah, aku nemuin sebuah foto.  Fotoku bareng Papah dan salah seorang kakakku.  Aku tersenyum kecil, hampir menangis lagi.  Cukup lama aku melihat foto yang hampir rusak itu.
Lalu aku mencoba untuk mencari lagi.  Aku mengambil sebuah kertas yang di luarnya tertulis “Untuk anak-anakku tercinta”.  Dan aku membuka lipatannya.

Tiba-tiba aku menangis untuk yang kedua kalinya.  Itu surat dari Papah, dan mungkin itu surat terakhirnya sebelum meninggalkan kami.
Surat itu ditulis waktu Papah lagi sakit dan lagi dirawat di rumah sakit, yang cukup jauh dari rumah.  Ketika Papah dirawat disana, kami (anak-anaknya – red) jarang bertemu.  Kami juga ga pernah ketemu Mamah, karna sibuk jagain Papah.

***

Mungkin aku sedikit nyesel karna aku terlambat menyadari arti “kematian” yang sesungguhnya.  Sampai Mamaku harus rela ngomong seperti itu waktu aku masih umur 6 tahun. 
Tapi aku bersyukur pernah punya Papah yang kuat menghadapi hidupnya.  Melawan rasa sakitnya lebih dari 7 bulan.  Bolak-balik rumah sakit untuk bertahan hidup.  Rela bekerja dimana aja buat ngehidupin keluarganya.  Dia memang ayah terhebat.  I LOVE YOU, Dad..

Always remember, Beloved Daddy
IBNU WIJAYA

1 comment:

  1. mba tiya q nangis tau bacanya,, q jadi keingetan bapak ku di rumah.. huhu pengen pulang..

    ReplyDelete