Waktu kelas 2 SD...
“Emang Papa kemana sih, Ma? Kok
ga pernah pulang lagi?” tanyaku ke Mama suatu hari.
Tiba-tiba ada pesawat yang
lewat. Dan Mama mengatakan sesuatu.
“Lihat pesawat itu, nak. Lambaikan tanganmu!” jawab Mamaku memandang
ke atas dengan sedikit senyum.
Aku melambaikan tanganku, “Kenapa
Ma? Kok aku harus dadah sama pesawat
itu?”
“Papa di dalem sana. Lagi keliling dunia.” Melihatku penuh
ketulusan sembari tersenyum.
Ber-dadah saat pesawat lewat menjadi kebiasaanku pada akhirnya. Entah
setiap pulang sekolah sampai bermain dengan teman. Hingga suatu ketika salah seorang temanku
bertanya.
“Tiya, kamu kenapa dadah kalo ada pesawat lewat?”
“Ooh, aku lagi dadah sama Papaku. Dia lagi naik pesawat loh, keliling dunia.”
Jawabku mantap.
Dan jawaban seperti itu terus
terucap setiap ada orang yang bertanya, sampai aku menyadari ketika aku diajak
Mamaku ke suatu tempat yang disebut orang “kuburan”.
“Kita ngapain kesini Mah? Di kayu
itu ada nama Papah.”
“Kita do’a dulu yuk, Nduk. Buat Papah.. Biar selamet di
jalan.”
Tanpa banyak bertanya lagi, aku
menuruti ucapan Mamaku.
Ketika Mamaku beranjak berdiri
dan mengajakku pulang, tiba-tiba aku tergerak untuk mencium kayu bertuliskan
nama Papaku itu.
***
Kelas 6 SD...
“Eh, Papanya Mela meninggal.”
“Yang bener? Kapan?”
Pagi itu teman-temanku ribut
karena ada kabar meninggalnya Ayah dari seorang teman kita. Lalu teman-teman merencanakan akan datang ke
upacara pemakaman Ayah temanku. Aku ikut
serta. Setelah sampai di rumah Mela.
“Mela kok nangis?” kataku dalam
hati.
“Mamanya Mela juga nangis.
Saudaranya juga banyak yang nangis.”
Aku segera memikirkan semua yang
aku lihat di rumah Mela ketika sudah tiba di rumah.
“Ternyata ditinggal seseorang
yang kita sayang menyedihkan ya?” aku mulai berceloteh sendiri.
“Tapi bukankah Mela lebih
beruntung dari aku? Dia jauh lebih lama bareng-bareng sama Papanya. Aku cuma 6
tahun ketemu sama Papaku. Itu juga ga
banyak kenangannya.” aku semakin ga jelas ngomong tanpa arah. Lalu air mata
tiba-tiba mengalir, begitu saja.
Aku sadar kalo aku menangis. Segera aku mengusap wajahku, takut ketauan
Mamaku. Aku berdiri, berjalan menuju
sebuah lemari. Aku membuka laci di lemari
itu.
“Apa aku punya foto kecilku
bareng Papah?” kataku dalam hati, kangen mendadak.
Aku mencoba mencari, mengecek apa
saja yang ada di laci itu. Yah, aku
nemuin sebuah foto. Fotoku bareng Papah
dan salah seorang kakakku. Aku tersenyum
kecil, hampir menangis lagi. Cukup lama
aku melihat foto yang hampir rusak itu.
Lalu aku mencoba untuk mencari
lagi. Aku mengambil sebuah kertas yang
di luarnya tertulis “Untuk anak-anakku tercinta”. Dan aku membuka lipatannya.
Tiba-tiba aku menangis untuk yang
kedua kalinya. Itu surat dari Papah, dan
mungkin itu surat terakhirnya sebelum meninggalkan kami.
Surat itu ditulis waktu Papah
lagi sakit dan lagi dirawat di rumah sakit, yang cukup jauh dari rumah. Ketika Papah dirawat disana, kami
(anak-anaknya – red) jarang bertemu.
Kami juga ga pernah ketemu Mamah, karna sibuk jagain Papah.
***
Mungkin aku sedikit nyesel karna
aku terlambat menyadari arti “kematian” yang sesungguhnya. Sampai Mamaku harus rela ngomong seperti itu
waktu aku masih umur 6 tahun.
Tapi aku bersyukur pernah punya
Papah yang kuat menghadapi hidupnya.
Melawan rasa sakitnya lebih dari 7 bulan. Bolak-balik rumah sakit untuk bertahan
hidup. Rela bekerja dimana aja buat
ngehidupin keluarganya. Dia memang ayah
terhebat. I LOVE YOU, Dad..
Always remember, Beloved Daddy
IBNU WIJAYA
mba tiya q nangis tau bacanya,, q jadi keingetan bapak ku di rumah.. huhu pengen pulang..
ReplyDelete